: 646
Cerpen  

Hari Jum’at

: 647

Apa yang membuatnya istimewa? Apakah karena sedikit waktunya yang mustajabah? Atau karena merupakan masa paling bagus intuk beribadah, bermunajat, menghamba pada Sang Maha Rohmah?

Baiklah, mari kita sederhanakan.

Karena Jumat adalah hari libur. Ya, sesimpel itu.

Setelah digempur dengan hafalan, murojaah, mutholaah dan kegiatan lain-lain selama satu minggu, maka bukankah sangat pantas jika hari jumat begitu istimewa?

Karena libur.

Bagi selain diriku.

Huft

Asal kalian tahu. Ada satu prinsip yang aku pegang selama ini “friday is not freeday”. Simpelnya, jumat bukan hari senang-senang, buatku tentunya. Kalau kebanyakan teman-teman akan menganggap hari jumat ialah masa ritual bersantai ria dengan mengkosongkan satu hari full dari sesuatu yang berhubungan dengan belajar, maka berbeda denganku. Tak ada hari libur. Tak ada tugas sekolah, tetap ada tugas pribadi. Seperti sekarang misalnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 8, jika teman-teman kini sibuk bersantai, makan, bergurau dan sebagainya. Maka ada aku yang akan sibuk dengan bersih-bersih loker aula yang berisi kitabnya Abah Yai. Bukan sok rajin, tapi memang seolah ada yang kurang jika semua belum beres. Tak jarang banyak yang menjulukiku Si Pendiam yang tak bisa diam.

Tapi percayalah, aku bukan pendiam, hanya saja aku tipe orang yang sangat malas berbicara, apalagi terhadap seseuatu yang tidak penting, lebih baik aku tidur. Hmm, memang aku seabsurd itu.

“Astaghfirullah”

Samar-samar aku mendengar suara itu. Disertai ada desis-desis kecil. Ku hentikan kegiatanku dan dengan sedikit penasaran, aku mendekati sumber suara. Ternyata seorang ibu-ibu -mungkin usianya tak jauh beda dari Ummi terlihat susah payah menopang badan dengan sebelah tangan memegangi pinggang. Aku menghampirinya yang terlihat kesulitan berjalan.

“Saya bantu, Bu” tawarku

Memang sudah menjadi rutinitas, setiap hari jumat akan ada banyak tamu yang hendak sowan kepada Ummi. Mungkin ibu ini salah satunya.

Dengan sedikit tertatih-tatih, aku membantunya duduk di depan aula yang terkadang memang diperuntukkan para tamu yang hendak sowan dan menunggu hingga Ummi miyos.

“Alhamdulillah. makasih, Nak. Maklum, orang tua.”

Aku hanya membalasnya dengan tersenyum.

“Ibu mau sowan?” Tanyaku setelah membantunya duduk.

“Iya, Nak. Biasanya jam berapa ndalem buka ya?”

Aku melirik jam tangan kecil yang ku pakai. Pukul delapan.

“Mungkin sekitar satu jam lagi, Bu” Jawabku.

“Oh, masih lumayan ya.”

Angguknya sambil tersenyum.

Dengan balutan gamis batik warna seawood dan jilbab senada yang ia kenakan saat ini, penampilannya masih cukup cantik untuk standar wanita lima puluhan. Meskipun tanpa make up, wajahnya terlihat segar dan begitu berwibawa.

“Apakah beliau Bu Nyai juga?”

Batinku sedikit menafsiri apa yang ku lihat saat ini.

Suasana sedikit canggung ketika kami sama-sama diam. Aku ingin melanjutkan kegiatan bersih-bersihku tapi rasanya tidak sopan membiarkan tamu sendirian dan kelihatannya juga memang beliau seorang diri alias tidak membawa teman. Dan hey, mengapa aku juga tak melihat mbak-mbak khodam sama sekali saat ini?

Batinku mengguretu kecil. Tak masalah sebenarnya, tapi ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, bukan?

“Santri-santri sekarang luar biasa enaknya ya.” Ibu itu akhirnya berbicara. Aku mendongak, mengikuti tatapannya yang tertuju pada santri-santri yang sedang sarapan atau entah hanya sekedar njajan tu.

“Dulu zaman saya masih mondok, jangankan njajan, untuk makan dua kali sehari saja masih harus sangat berhemat.”

Aku hanya menunduk dan tersenyum menanggapinya. Sejujurnya aku sedikit tertampar dengan perkataannya.

Memang benar, untuk urusan makan minum jajan dsb, di pondok kami tidak ada batasan sama sekali, dalam artian selagi itu halal dan tidak berlebihan, semua diperbolehkan.

“Saya jadi ingat Kyai Abdullah. Ulama masyhur pengasuh salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia yang dulu ketika mondok selalu dibekali uang pas-pasan oleh abahnya. Sekarang siapa yang tak kenal beliau, Nduk?”

Aku hanya tersenyum. Sejujurnya, aku sudah sangat hafal dengan cerita itu. Tentu saja, ia Kyaiku. Pengasuh pondok pesantren ini yang sudah wafat beberapa tahun silam. Ulama kharismatik yang terkenal dengan kealimannya itu.

“Bahkan, dulu setiap ramadlan, beliau selalu berlari ke masjid ketika berbuka puasa untuk sekedar minum air sepuas-puasnya.”

“Masih adakah sekarang yang seperti itu ya?” Imbuhnya.

Aku hanya tersenyum.

“Kalau difikir-fikir hidup itu lucu ya, Nak. Gusti Allah lebih dulu memberi cobaan, ditempa dengan berbagai ujian, baru setelahnya akan dapat pelajaran.” Jeda, ia sedikit membenarkan jilbabnya. Lagi-lagi aku hanya tersenyum menanggapi perempuan yang baru ku temui beberapa menit yang lalu itu.

“Tapi  lagi-lagi, taqdir Allah siapa yang tahu ya Nak. Dunia itu tempat bercukulnya rahasia-rahasia. Jangankan esok pagi, rahasia sedetik setelah ini pun kita tak akan tahu. Barangkali dengan kecipratan barokahnya Kyai Abdullah, kelak kalian juga menjadi ulama hebat.”

Kali ini kami sama-sama tersenyum. Dan aku mengamini dalam hati.

“Maaf, Bu. Ibu Alumni sini juga?”

Aku memberanikan diri untuk bertanya.

Ia tersenyum sebelum menjawab.

“Tidak, Nak. Suami ibuk yang alumni. Saya dulu mondok di pesantren di jawa tengah”

“Oh begitu.” Aku tak berani bertanya macam-macam.

Setelahnya, kami pun memperkenalkan diri masing-masing, namanya Ibu Mufidah. rupanya beliau berasal dari Lasem yang  mana istri dari alumni yang dulu pernah jadi khodamnya Kyai Abdullah, tidak heran jika beliau paham tentang masa lalu Kyai Abdullah. Dan hari ini, ia sengaja datang untuk menjenguk putranya yang kebetulan juga mondok di pesantren ini. Sekalian sowan Ummi katanya.

Tak terasa obrolan kami memangkas waktu, obrolan yang mengalir begitu saja.

Nyaman. Itu yang ku rasakan semenjak perkenalan tadi. Dan rupanya pintu ndalem Ummi juga sudah terbuka. Mungkin beberapa waktu lalu saat kami sedang asik mengobrol.

Sebelum kami mengakhiri percakapan, aku melihatnya mengambil sesuatu dalam dompet.

“Ini, Nak. Barangkali kamu berkunjung ke Lasem, ibu sangat senang kalau kamu bisa mampir.”

Ternyata alamat rumah beliau.

“Dan ini..” beliau memberiku amplop (yang aku tau kalau itu berisi uang).

“Terimakasih sudah menemani ibu. Kamu anak yang baik.”

“Ah, tidak usah, Bu, terimakasih. Saya juga senang bisa ngobrol sama njenengan.” Aku menolaknya dengan halus.

“Ndak apa-apa, ambil saja, Nak. Ibu sengaja tidak membawa apa-apa kemari. Berat. Hehe.”

Dengan berat hati aku mengambil amplo itu.

Dengan niat menyenangkan orang lain. Ah, aku malu sekali sebenarnya.

“Ya sudah, ibu sowan dulu. Terimaksih waktunya ya Nak.”

Setelah itu aku membantunya berdiri. Ia menolak ku antarkan sampai ndalem. Sudah mendingan katanya.

Setelah beliau tak tampak lagi dari penglihatanku, aku bergegas kembali ke pertaruhan, kain lapnya ternyata belum kering. Aku harus segera mengelap semuanya, sebelum ada tamu-tamu yang lain.

*

Masjid Jami’ Baiturrahman Lasem.

Aku mengenakan sepatu ketsku setelah keluar dari pesarean Sayyid Abdurrahman Mbah Sambu.

Ya, beberapa waktu lalu entah ada angin apa pamanku – yang sedang hectic dengan skripsinya itu – mengajakku ke Lasem. Mumpung aku sedang liburan katanya. Ku terima saja dengan senang hati. Toh, aku juga penasaran dengan kota ini. Ternyata setelah ku telusuri tadi -karena melihat dia berbincang-bincang dengan ta’mir masjid- ternyata paman sedang menjadikan masjid jami’ ini sebagai bahan skripsinya. Tak heran sih, masjid ini memiliki nilai historis yang luar biasa. “Sumber peradaban islam di nusantara, ya di sini.” Kata paman.

Sambil menunggu paman yang entah sekarang sedang berada di sudut mana, karena area masjid ini sangat luas tentunya, aku duduk di teras tepat di samping pesarean Sayyid Abdurrahman dan beberapa Ulama besar di daerah Lasem.

Aku bermaksud mengambil smartphone di dalam tas untuk membunuh waktu.

Hey, aku ingat sesuatu.

Kuurungakan niatku dan ku buka dompet. Mengambil kertas berisi alamat Ibu Mufidah yang ia berikan beberapa waktu lalu.

Segera aku membuka aplikasi maps dan ku tulis alamat itu sebagai tujuan.

Ternyata tidak jauh. Dan ternyata area pondok pesantren.

Ah, mungkin memang hanya dekat dekan kawasan pesantren. Batinku.

Hanya sekitar 5 menit dari sini. Sepertinya aku harus bersilaturrahim.

Segera aku membuka aplikasi whatsapp dan memberi pesan kepada Paman.

“Aku ke alamat sini, ingin mengunjungi teman ya, Lek. Nanti jemput. Dekat kok. Aku sharelock nanti.”

Send

Terkirim

Oke, aku segera keluar masjid, mendekati salah satu betor yang berjajar di sekitar area masjid.

“ke alamat ini ya, Pak.”

Aku menunjukkan kertas tadi.

“Oh, Pondok pesantren Al-Ibrohimi ya, Mbak”

“Hah!? Pondok?” Aku sedikit terkejut.

“Nggih mbak, ini alamatnya ke sana”

“Ya, ya udah pak.” Aku sampai sedikit tergagap. Takut dugaanku waktu itu benar.

Di tengah perjalanan, aku hanya diam sambil menikmati padatnya kota Lasem, maklum saja, ini jalan pantura, jadi tak heran banyak mobil-mobil besar yang melintas.

Tak lama, aku sampai di depan tugu yang bertuliskan “PP. Al-Ibrohimi” dengan ukuran cukup besar.

Sebentar, mengapa jantungku berpacu begitu cepat?

Tukang becak akhirnya berhenti, aku segera berdiri dan mengeluarkan lembaran berwarna hijau dari saku gamisku.

“Pak, mohon maaf. Kalau Ibu Mufidah itu rumahnya sebelah mana ya?”

Aku sedikit bergetar menanyakannya.

“Oh, Bu Nyai Mufidah”

“Bu Nyai ya rumahnya depan itu mbak, Cat kuning yang ada pohon mangganya.. La itu, Bu Nyai sedang di depan.”

Deg

“Bu Nyai?”

Jadi dugaanku waktu itu benar.

“Ya udah, makasih ya, Pak”

“Ya Mbak. Monggo” bacak itu berlalu.

Aku masih ragu untuk masuk. Entahlah, otakku masih belum sadar sepertinya.

“Loh, Fira?”

Aku menengok sumber suara

“Kang Ali?”

Ternyata khodamnya Ummi.

“Siapa, Le”

Aku mendengar Ibu Mufidah dari jauh.

“Safira, Mik.”

Astaga. Apalagi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *