: 484
Esai  

Kecewa

: 485

Dulu aku sempat ragu dengan nilai sebuah kepercayaan. Apa istimewanya dengan hal itu? Seberharga itukah sampai si Jim rela mengejar sebuah ketidakmungkinan sampai ia bertemu pada kematiannya atas dasar rasa percaya?
Agak klise.
Tapi itu dulu, sebelum aku benar2 bertarung melawan kehidupan. Sebelum waktu mendewasakanku. Sebelum aku masuk di usia paling challanging seumur hidup, dengan sekian keabsurdanku dalam memaknainya, yang juga masih memandangnya sesempit pola pikirku. Dan segalanya yg masih tentang aku, aku dan aku.
Sampai aku bertemu titik paling sadar, bahwa percaya bukan hanya sekedar nilai yang bisa ditulis dengan tinta, bukan juga harga yang bisa diukur dengan seberapa banyak nol yang tercetak di belakang sebuah angka. Ia lebih dari itu.
Sadar atau tidak, sejak dulu kita sudah sering belajar tentang makna sebuah percaya. At least, percaya pada Tuhan. Yang merupakan pondasi paling pokok sebagai makhluk yang diciptakan-Nya. Mudah saja sebetulnya, paling tidak sudah ada mind set dalam diri kalau seandainya Tuhan tidak ada, maka kehidupan juga tak akan tercipta.
Harusnya seperti itu.
Tapi nyatanya?
Untuk hal se basic itu pun manusia masih sering abai, tak percaya, atau bahkan sama sekali tak peduli.
Sebetulnya untuk apa otak mereka?
Lantas bagaimana konsep percaya paling benar pada makhluk berjenis manusia itu sendiri?
Ah, aku terlalu banyak bertanya sepertinya.
Tapi jujur saja, beberapa kejadian yang terjadi belakangan membuatku berfikir tentang banyak hal. Terutama tentang kepercayaan itu sendiri.
Sialnya, di usia hampir seperempat abad aku benar2 baru merasa sakit hati, untuk kali pertama aku merasa nggak enaknya dikhianati. Sedihnya luar biasa karena dibohongi orang yang dipercaya.
Ketika singgasana yang terbangun sudah hancur lebur runtuh tak terbentuk. Semua terpatahkan oleh orang yang katanya sayang.
Maka, atas semua yang terjadi, dengan siapa seharusnya manusia menaruh rasa percayanya?
Semua berantakan.
Kecewa? Tentu.
Dengan keadaan yg semakin riweuh, kita dituntut untuk tahu bagaimana cara paling bijak untuk posisi paling menghimpit sekalipun. Dan sedenial aku dengan pola pikir yg nyatanya masih labil, emosi yang sering naik turun dipaksa meredam supaya bisa berfikir lebih sehat, sebagaimana harusnya.
Aku mulai belajar untuk tidak lagi menaruh rasa percaya ke sembarang orang, juga tidak melambungkan ekspektasi tinggi2, terutama pada manusia. Untuk rencana2 yang ku bangun, nyatanya runtuh juga. Karena memang kemampuan manusia hanya sebatas itu. Sisanya bukan kuasa kita.
Kini berusaha ikhlas agar hati tidak keras. Berdamai dengan realita yang tak jarang membuat jatuh tersungkur di dasar paling dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *