: 392
Esai  

Perempuan dan telepon seluler

: 393

Perempuan masa kini menjalani hidup dengan kepungan berbagai perangkat teknologi. sadar atau tidak, mereka seolah ditarik oleh perangkat mediia sosial  yang didukung dengan fasilitas-fasilitas yang tersedia. apalagi portal-portal berbasis aplikasi yang kian marak seolah menjadi pendorong manusia masa kini yang notabene sangat menyukai hal-hal yang serba instan untuk terus terkoneksi dan mengkseksplor apapun yang menurutnya lebih efisien sebagai penunjang gaya hidup mereka. sangat masuk akal jika pola fikir  mereka lebih prefer terhadap trend daripada konsisten pada syariat. mereka seolah lebih memiliki ketakutan hebat akan terputus dari jejaring maya daripada terputus dari koneksi ilahiyyah nabawiyyah.

Michael Harris, salah satu pakar asal Kanada memberi illistrasi cukup mengena. cobalah mengetik ‘Fear of being without” di mesin pecari google. malka fitue oauto-compete di baris pertama akan menampilkan “Fear of being without your phon”. harris juga mengutip sebuah penilitan tahun 2013 yang mekibatkan 7500 pengguna tefon seluler di Amerika. salah satu hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa “ 80% di antara mereka segera mengambil telepon seluler 15 menit setelah bangun tidur. Memberi kesempulan betapa peran syari’at seolah sudah tergeser oleh benda persegi itu.

belakangan saya ditanyai tentang bagaimana seharusnya perempuan hidup di zaman fitnah seperti sekarang. atau paling tidak, bisakah perempuan hidup tanpa terbayang-bayang akan fitnah itu sendiri dengan akses global dan tuntutan zaman yang kian mencekam?

ada hal yang patut disukuri perempuan terlahir di masa di mana ia sudah sangat dimuliakan seperti sekarang. kapabilitasnya di hargai, bahkan sosoknya dijunjung tinggi. eksistensinya bahkan mampu mengalahkan laki-laki. jika kita tarik ke belaknag menuju beberapa abad silam, yang mana perepmuan masih berada pada titik paling dasar, hal ini menjadi bukti, bagaimana kontribusi islam sangatlah besar terhadap martabat perempuan. tak hanya itu, bahkan Allah snediri menamai salah satu surat dalam alquran sebebagai bentuk khusus kemulyaan terhadap seorang perempuan.

tapi jika kembali pada realita saat ini,  di satu sisi, perpmuan seola kemabali jatuh sperti yang pernah terjadi namun bukan karean kebohan suatu kaum, tapi karena kebodohan dirinya ssendiri. belum lagi masih banyak slogan-slogan feminimisme yang digalakan atas dasar diskriminatif. mereka menuntut kesetaraan gender yang seolah menjadi stigma kelam yang tak kunjung hilang. yang nyatanya juga digembor-gemborkan oleh JIL dengan dalih penindasan terhadap perempuan. konflik semacam ini mungkin akan terus memicu perpecahan apabila tidak ada upaya untuk mensterilkan dari mind set masyarakat terutama perempuan itu sendiri.

apakah dengan itu semua perempuan bisa dengan mudah menghindari fitnah zaman? bahkan dia tak sadar kalau fitnah itu datang karena impact yang timbul dari dirinya sendiri. dia yang menjadi madrosatul ula. bahkan dialah yang mejadi imaadul bilad seharusnya mampu menancapkan mindset bahwa kwalitas dirinyalah yang parlu dinomorsatukan. Memaksimalkan segala sesuatu yang nantinya akan ia wariskan kepada anak-anaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *