: 691
Cerpen  

Jarak antara Tuhan dan Air Mata

: 692

Jarak antara Tuhan dan Air Mata

Pintu rumahnya diketuk dari luar. Sofi kontan berlari kecil untuk menyongsong belahan jiwanya, palung cintanya serta kasihnya, dan poros kebahagiannya.

1.

Pukul dua dini hari, pasangan itu sama-sama terjaga. Sofi menggenggam kalung mas kawin pernikahan mereka di tangannya, menatap Karim.

“Mau dijual, ya?” tanya Karim datar.

Sofi menunduk. Ia tahu Karim bisa menebak keinginannya hanya dengan sekali tatap. Apalagi sebelum tidur ia sempat bercerita tentang orang tuanya yang tadi pagi divonis terpapar virus dan butuh perawatan intensif di rumah sakit.

“Aku berniat menggadaikannya, Abi,” Sofi membalas lirih, “akan kutebus dengan uangku sendiri kalau sudah ada,”

“Kamu cuma bekerja sebagai guru swasta, tidak pandai menabung pula,” tanya Karim lagi, kali ini nadanya melembut. “Tidak perlu berbohong. Kalau keputusanmu untuk menjualnya sudah bulat, aku tidak akan menghalangi. Tapi, bolehkah aku memberi saran?”

Sofi mendongak, menatap Karim lekat.

“Kemari, mendekatlah,” panggil Karim seraya bergeser dan memberi ruang untuk Sofi di bibir kasur. Sofi beringsut mendekat, perasaannya bercampur antara ragu dan takut. Ia buru-buru berkata dengan gugup.

“Abi, sungguh aku tidak bermaksud lancang. Aku bermaksud memberi tahu besok sebelum pergi ke pasar—”

“Masya Allah, tidak apa-apa, Yaa Zawjatii[1]. Aku tidak bermaksud melarangmu, mau digadaikan atau dijual, aku tidak akan menghalangi,” Karim tersenyum, berkata menenangkan istrinya. “Aku tahu biaya perawatan di rumah sakit sekarang tidak murah. Tapi, alih-alih langsung menjual kalung mas kawin itu, kenapa tidak menjual yang lain dulu? Kita punya banyak perabot tak terpakai di kamar lantai dua, kan? Itu saja dijual dulu, kalau masih kurang baru kamu jual kalung itu,”

Sofi bergeming sesaat, lalu sejurus kemudian menghela napas berat. Karim tahu benar arti dari helaan itu.

“Sofi, kamar itu tidak berpenghuni, tak akan ada masalah dengan menjual beberapa perabotan di sana,”

“Belum, Abi, kamar itu belum berpenghuni, dan akan berpenghuni,” Sofi meralat perkataan Karim dengan nada yang ditekan, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri, “kamar itu akan punya penghuninya,”

Karim membuang muka, tak kuasa menatap istrinya berkata begitu. “Aku mau mandi lalu salat tahajud. Istirahatlah,”

Karim beranjak dari ranjang, dan segera melangkah menuju pintu keluar.

“Aku siapkan air hangat, ya, sebentar,”

Karim menahan Sofi yang sudah bersiap bangkit, menatapnya dengan raut muka yang tidak bersahabat. “Tidak perlu,” tegasnya, “kamu istirahat saja.”

Sofi mengangguk pelan, memandangi suaminya yang keluar kamar dengan hati yang terluka. Tidak, ia tidak terluka dengan hardikan Karim. Hatinya memang sudah terbebani oleh rasa bersalah pada Karim sejak lama, bahkan sejak keduanya belum menikah. Sementara itu, Karim tahu betul kenapa Sofi merasa bersalah padanya, dan ia benci itu.

“Oh iya,” Karim berbalik sebentar, “sampai kapan kamu akan memanggilku Abi?” tanyanya sambil tertawa getir, “Panggil aku Karim saja, jangan Abi. Aku tahu kamu memanggilku begitu karena mendamba buah hati, tapi kenyataannya kita tidak punya anak, Sofi.”

Sofi tertegun. Kata-kata Karim sempurna menohok ulu hatinya, rasanya jauh lebih sakit daripada tertusuk duri saat ia mengusap kuntum mawar, dan lebih dingin dari gerimis yang sampai sekarang masih memeluk sudut-sudut Palestina. Ia kehilangan kata-kata, tak mampu menjawab perkataan Karim.

Karim melanjutkan langkahnya keluar kamar. “Kita tidak punya anak, dan aku tahu itu salahku,” gumamnya lirih.

2.

Hidup adalah kotak penuh kejutan, terlebih jika kotak itu berada di Palestina, kampung halaman Karim dan Sofi; kejutan yang muncul tidak selalu menyenangkan. Semenjak kecil, Karim telah karib dengan desing peluru dan baku tembak yang tak jarang sampai meluluh-lantakkan bangunan-bangunan besar seperti toko, sekolah, hingga masjid. Ia lahir dan tumbuh di Tel al-Hawa, salah satu daerah yang makmur di selatan Gaza.

“Umma, kenapa beberapa hari ini suara ledakan di luar terdengar lebih lama dari biasanya?” tanya Karim kecil yang saat itu baru menginjak usia sepuluh tahun pada ibunya. “Selain itu, Baba juga tidak pulang sejak tiga hari lalu. Apa sesuatu terjadi pada Baba?”

“Baba baik-baik saja, Karim,” ibunya tersenyum menenangkan, “dengar baik-baik, Karim. Kita adalah orang-orang pilihan Allah, kamu tahu kenapa?”

Karim menggeleng. “Karena kita bisa melihat adegan aksi secara langsung, tanpa televisi?” tebaknya asal.

“Bukan!” ibunya terkikik oleh tebakan itu, “Kita terpilih karena kita bisa tinggal di negara yang diberkahi oleh Allah. Palestina adalah tanah para nabi, Karim, mulai dari Nabi Ibrahim, Nabi Isa, sampai Nabi Muhammad, mereka semua punya sejarah di tanah ini,”

Karim mengangguk-angguk. “Tapi, Umma, jika negeri kita diberkahi Allah, kenapa banyak orang jahat yang menembak dan merusak rumah-rumah tetangga? Beberapa bulan lalu Baba bahkan pulang dengan banyak luka,” tanggap Karim sangsi, “Bukankah Allah tidak suka orang jahat?”

Ibunya merengkuh tubuh kecil Karim, tangannya mengelus rambut halus Karim perlahan. Sejurus kemudian, ia melepaskan rengkuhannya dan menatap Karim dengan senyum yang teduh. “Tentu kamu benar, Karim, Allah tidak suka orang jahat,” jawab ibunya, “dan kalau mau, Allah bisa saja membuat semua orang jahat itu pergi. Tapi, kenapa Allah tidak melakukannya? Itu bukan urusan kita lagi, Karim, dan tidak akan ada habisnya jika kamu pikirkan, sebab kehendak-Nya adalah sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan. Kita hanya tahu, ada orang-orang jahat yang ingin merebut tanah kita, Nak, dan kita tidak boleh tinggal diam.”

Karim terdiam sejenak. “Umma, aku akan tumbuh dewasa, kan?” tanyanya kemudian.

Ibunya ternganga mendengar pertanyaan itu. “Apa maksudmu? Jelas kamu akan tumbuh dewasa, Karim! Kamu akan tumbuh dewasa dan mempunyai masa depan yang baik,” jawab ibunya dengan nada gemetar. Mendengar nada itu, Karim tak mau bertanya lagi. Ia yakin ibunya paham bahwa maksud pertanyaannya bukan apakah ia akan tumbuh dewasa, melainkan apakah ia sempat tumbuh dewasa, sebab untuk menghentikan hidup dan waktunya di dunia, tembakan sebutir peluru di jantung atau kepala sudah lebih dari cukup.

Beruntung bagi Karim, jika hidup bagaikan dua sisi koin yang terbagi antara sisi baik dan buruk, maka selama masa pertumbuhannya, Karim kerap mendapat sisi yang baik. Ia mendapat makanan, pendidikan, dan perlindungan yang membuatnya jadi pemuda berparas tampan, berpendirian teguh, serta memiliki aura nan bermartabat.

“Umma, aku meraih peringkat pertama lagi di kelas! Aku yakin akan menjadi wisudawan terbaik. Nah, bisakah Umma ingatkan Baba akan janjinya untuk mengizinkanku merantau? Aku sudah menjadi peringkat pertama di kampus tiga semester berturut-turut, tahu!”

Ibunya tergelak. “Iya, iya, nanti Umma bicarakan dengan Baba. Tenanglah, Karim, ayahmu adalah lelaki yang bisa dipegang kata-katanya,”

Sayangnya, semenjak percakapan itu, ayahnya tak pernah pulang. Perlahan-lahan, kehidupan seolah berteriak pada Karim bahwa ia bukan sekadar koin yang memiliki dua sisi. Ia adalah permainan teka-teki yang rumit dan menjengkelkan, sebab kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi berikutnya, dan di Palestina, ketidakpastian itu didominasi oleh skenario yang buruk, mulai dari runtuhnya rumah karena serangan udara Israel, rasa lapar yang harus ditahan berhari-hari, sampai skenario yang saat itu dialami oleh Karim; kehilangan orang tersayang.

“Abbas adalah pejuang yang gigih. Kami merasa hancur mengabarkan bahwa ia telah gugur di dalam jihadnya,” ujar seorang utusan yang bertamu ke rumahnya, “kami ikut berduka,”

Karim tahu, bahwa saat itu pasti akan datang, namun ia belum—dan barangkali tak akan pernah—siap menghadapi kehilangan, bahkan sekalipun para tetangga menghibur bahwa ayahnya itu mati syahid. Yang Karim tak tahu, selang beberapa hari kemudian, kala keluarganya masih berkabung setelah mendengar kabar kematian ayahnya, seorang wanita dari Bethlehem datang bertamu.

“Perkenalkan, saya Sofi,” wanita itu memperkenalkan diri, “saya datang kemari dengan maksud dan niat yang baik. Saya ingin menjadi istrimu,”

Karim terkesima. Pertama, Sofi memiliki mata yang begitu jernih, seperti air laut ketika gelombangnya tenang. Hidungnya mancung, bibirnya tipis dan bersih dari usapan gincu, dan caranya saat memperkenalkan diri amat manis, sebab ada lesung pipi yang tampak ketika ia tersenyum. Kedua, dan ini yang lebih membuat Karim terkejut, tanpa basa-basi yang membuang waktu, ia langsung mengatakan keinginannya untuk menikah.

“Maaf, apa kita pernah bertemu?” Karim bertanya sopan, “Ajakan ini begitu tiba-tiba. Saya bahkan baru mau lulus dari kuliah, belum punya pekerjaan tetap, dan masih menumpang tinggal bersama orang tua,”

“Kita belum pernah bertemu, tapi aku sudah mendengar semua tentangmu, Karim,” Sofi memelankan tempo bicaranya, “aku tahu semuanya, dari ayahku,”

Sofi lalu memberikan penjelasan panjang tentang persahabatan ayahnya dan ayah Karim yang bertemu di Jalur Gaza. Obrolan mereka tentang Karim, Sofi, serta rencana masa depan yang mereka persiapkan untuk anaknya. Sayang sekali, sebelum sempat menyampaikan itu pada Karim, ayahnya meninggal.

“Berat bagiku untuk mengatakan ini, tapi kurasa kamu harus tahu,” Sofi berkata penuh kehati-hatian, “kamu pasti sudah dengar penyebab ayahmu meninggal adalah karena ia melindungi seseorang ketika terjadi baku tembak antara Hamas dan Fatah[2] beberapa hari yang lalu. Orang yang dia lindungi adalah ayahku,”

Pelan-pelan, berkat cerita Sofi, Karim bisa melihat benang merah dalam kepalanya. “Sebentar,” katanya sambil tertawa getir, “jadi kamu berniat menikahiku karena—”

“Tidak,” seolah tahu yang dipikirkan Karim, Sofi buru-buru memotong, “pertama, aku turut berduka atas berpulangnya ayahmu, ia adalah sosok hebat yang tidak mengenal takut demi membela tanah airnya. Kedua, apakah aku berniat menikahimu karena merasa berutang budi, sebab ayahmu menyelamatkan hidup ayahku? Tidak. Niatku berasal dari keinginanku sendiri, Karim. Tentu, aku tidak meminta jawaban hari ini. Silakan pikirkan, tidak mengapa, aku akan menunggu,”

Sofi pun pamit, dan sejurus kemudian Karim terlibat argumen sengit dengan ibunya tentang ide pernikahan yang sungguh tiba-tiba itu. Karim tahu ia sudah cukup umur untuk itu, tapi kata menikah dalam kamusnya berada di urutan belakang. Sebelum itu, ia ingin merantau, menjelajahi sudut-sudut dunia, serta mempelajari hal-hal yang tak bisa ia temukan di Palestina.

“Umma, pembicaraan ini tak akan ada habisnya,” kata Karim lelah, “intinya, aku belum siap menikah. Aku masih ingin merantau, seperti yang dianjurkan oleh Imam Syafii,”

“Umma tahu kamu ingin merantau, kau sering bercerita pada Umma karena Baba tidak mengizinkannya. Umma bahkan hapal negara mana saja yang ingin kau kunjungi, mulai dari Inggris, Meksiko, sampai Amerika. Selama ini Umma mungkin hanya mendengarkan, tapi diam-diam Umma mendoakanmu, Karim. Umma berharap kamu bisa mengunjungi semua negeri itu, belajar hal-hal yang tidak kamu temui di Palestina.”

Ibunya menghela napas berat. “Tapi sekarang keadaannya berbeda, ya Bunayya[3]. Baba meninggal. Kini keinginan Umma tidak muluk-muluk. Umma ingin melihat pernikahanmu sebelum menyusul Baba ke akhirat,”

Karim termangu. Tidak, ini bukan kisah cinta yang ia harapkan. Ia tak mungkin menikahi gadis yang baru ia temui beberapa saat lalu. Kisah cinta yang ia harapkan adalah kisah yang masuk akal, ia ingin bertemu seorang gadis di tanah perantauan, lalu mereka berdua akan saling mengenal tanpa harus diburu permintaan menikah dari ibunya, baru jika ia merasa cocok, Karim akan langsung mendatangi orang tuanya untuk menyampaikan maksudnya. Ia belum tahu bahwa tak ada yang benar-benar masuk akal saat kita membicarakan cinta.

“Pertimbangkan niat Sofi, Karim. Umma tak mau kamu menyesal.” pungkas ibunya lugas.

3.

Sebagaimana biasa, usai menunaikan salat Tahajud, Karim berniat tidur sebentar sembari menunggu azan Subuh. Ia harus berangkat pagi-pagi buta sebab Jalur Gaza kembali ricuh oleh baku tembak, dan kini ia bagian dari pemimpin yang ikut mempertahankan tanah airnya. Namun, malam itu sepertinya memang aneh. Ia melihat Sofi masih terjaga di bibir ranjang, dengan posisi yang sama seperti kala ia meninggalkannya beberapa saat lalu.

“Kamu tidak tidur?” Karim menghampiri dan duduk di sampingnya, “Ada masalah apalagi?”

Sofi menggeleng. “Aku memikirkan kata-kata Abi tadi,” balasnya dengan suara yang parau, “kata-kata adalah doa, Abi. Jangan bilang kita tidak punya anak, tapi kita belum punya. Anak adalah titipan dari Allah, jadi bila belum diberikan, mungkin kita memang belum mampu mengemban amanah itu, tapi jangan bilang kita tidak punya anak….”

“Astagfirullah, jangan menangis,” Karim buru-buru merengkuh kepala Sofi, menyandarkannya di bahu, dan membelainya pelan. “Iya, tidak seharusnya aku mengatakan hal itu, maaf,” katanya, “aku ingin kamu tahu, aku juga ingin punya anak, Sofi. Aku ingin punya anak bersamamu, tapi kenyataannya dokter menyatakan kesuburanku rendah,”

Sofi tak tahu, sudah berkali-kali Karim menangis dalam sujudnya di sepertiga malam, meratap pada Allah agar memberi mereka keturunan. Ia juga ingin punya buah hati yang akan mengiriminya doa saat kelak ia menyatu dengan tanah dan cacing-cacing.

“Abi ingin punya anak denganku? Sekalipun Abi menerimaku karena perintah ibu, dan akhirnya karena aku Abi tidak bisa merantau?”

Karim termenung beberapa detik. Sejurus kemudian, ia mengeratkan rengkuhannya. “Pertama, iya, aku ingin punya anak bersamamu. Kedua, Umma memang mewanti-wanti, tapi menikahimu adalah keputusanku sendiri, dan aku paham betul konsekuensinya pada mimpiku,” kata Karim menenangkan, “tidak mengapa, Sofi. Aku sama sekali tidak menyesal menikahimu. Aku memang tidak jadi merantau, tapi bukan berarti aku tidak akan merantau selamanya. Saat tabungan kita cukup, aku akan membawamu. Kita merantau bersama,”

Sofi menggerakkan kedua tangannya menuju leher Karim. Ia lalu mengusap air mata yang berlelehan di pipinya, sebelum kemudian tersenyum seraya menatap mata suaminya, lalu mengecup bibirnya lembut. Malam itu, Karim menerima hadiah termanis sebelum ia pergi ke medan jihad. Ia menerima cinta dari istrinya dalam bentuk yang paling tulus, hangat, dan putih.

4.

“Sofi, Ayah ingin kamu temui pemuda bernama Karim di daerah Tel Al-Hawa,” titah ayah Sofi suatu hari, “ajak dia menikah.”

“Ha, apa maksud Abi?” Sofi terperanjat, “Hanya karena Abi terluka parah setelah dari Jalur Gaza, bukan berarti Abi bisa menyuruhku melakukan apa pun, ya,” lanjutnya dengan nada merajuk, “Aku mau memilih suamiku sendiri, Abi. Perjodohan? Kuno sekali!”

“Iya, Sofi. Justru karena aku tahu persis seperti apa kriteria suami idamanmu, aku memberi tahumu ini,” sahut ayah Sofi, “kalau tidak sesuai kriteria, nanti ujung-ujungnya pasti kamu tolak, seperti puluhan pemuda yang sudah datang ke sini untuk melamarmu,”

Sofi melirik curiga. Ayahnya baru pulang dari Jalur Gaza beberapa hari yang lalu, ia terluka cukup parah, tapi alih-alih bercerita tentang keadaan di Jalur Gaza seperti yang biasa ia lakukan, ia justru membahas jodoh? Ini jelas anomali bagi Sofi.

“Aku tidak mau kalau dia seumuran dengan Abi, meskipun Abi diberi berapa juta dinar pun,”

“Dia seumuran denganmu,” ayah Sofi tersenyum.

“Aku tidak mau kalau dia tidak fasih—”

“Dia fasih membaca Al-Qur’an, punya wawasan agama yang luas, mahasiswa cemerlang di Universitas Islam Gaza, dan bisa memasak,”

Sofi mati kutu. Ayahnya sungguh tahu suami ideal yang selama ini hidup di pikirannya. Ia adalah sapioseksual kelas kakap, dan sebagian besar lelaki yang datang melamarnya punya rekam jejak akademis yang bagus. Namun, banyak dari mereka yang terlalu mengagungkan ilmu, sampai lupa dengan martabat, serta abai dengan akhlak.

“Dari mana Abi kenal pemuda ini?” selidik Sofi, “Kalian pernah bertemu?”

Ayah Sofi menggeleng pelan. “Aku belum pernah bertemu, tapi ayahnya adalah sahabatku,” lelaki itu tersenyum getir, “ia wafat saat melindungiku dari tembakan Israel,”

“Jangan salah paham. Aku tidak menyuruhmu menikah dengannya sebab aku punya utang budi dengan ayah pemuda ini. Utang budiku antara aku dan dia adalah urusanku sendiri sebagai sesama lelaki,” seolah bisa membaca pikiran anaknya, ayah Sofi buru-buru menambahkan, “tapi menikah adalah urusanmu, Nak. Aku tidak memintamu menikah dengannya sebagai prajurit yang punya utang budi; aku memintamu menikah dengannya sebagai ayah yang ingin melihat putrinya bahagia,”

Lama, lama sekali Sofi tidak mendengar nada bicara ayahnya selembut itu. Nada yang bisa membuatnya betah mendengarkan petuahnya, cerita-ceritanya semasa muda, bahkan lelucon yang tidak lucu sekalipun. Namun di atas semua itu, ia bisa merasakan kasih sayang yang terpancar dari nadanya, kata-katanya, dan binar matanya yang senantiasa jujur.

“Abi bisa beri aku alamatnya,” balasnya tanda menyerah, “aku akan mengunjungi untuk memastikan apa dia secerdas dan semenakjubkan seperti yang Abi ceritakan,”

“Kecerdasannya sudah pasti, Sofi, tidak perlu dipertanyakan” tandas ayahnya yakin, “yang tidak pasti adalah wajahnya. Jangan membayangkan dia setampan Udi Karni, atau kamu akan kecewa karena harapanmu sendiri,”

5.

Seminggu sudah Karim pergi dari rumah. Biasanya, saat ia pergi kesibukan Sofi akan tidak akan terganggu. Ia akan mengajar di pagi hari, lalu pulang dan istirahat sampai petang. Namun, seperginya Karim sejak hari pertama, malamnya Sofi dirundung demam. Seolah belum cukup parah, besoknya ia mengalami pengar terhebat sepanjang hidupnya. Ia mengira ini adalah sakit kepala biasa, jadi ia tetap mengajar, namun hari ketiga kepalanya kian pusing. Sofi terpaksa mengambil cuti dan meminta obat sakit kepala ke bidan langganannya.

“Ini bukan sakit kepala biasa, Sofi,” bidan itu menganalisis, “sepertinya … kamu hamil,”

Sofi termangu. Hatinya meluap-luap oleh harapan, namun ia menggeleng cepat, menarik dirinya kembali ke realita.

“Sungguh, Bu?” tanyanya tak percaya.

“Keadaan yang kamu alami sekarang adalah gejala kehamilan di minggu pertama, Sofi. Jadi kemungkinan besar iya, tapi saya belum bisa memastikan. Begini saja,” bidan itu pergi dan kembali dengan sebuah alat tes kehamilan, “bawa ini pulang. Baca cara penggunaannya di bungkus belakang dan coba sekitar satu mingguan. Jika hasilnya positif, berarti kamu hamil,”

Sofi sadar bahwa ia adalah perempuan egois. Ia menetapkan standar yang tinggi untuk suaminya, ia ingin punya anak yang rupawan sampai menyiapkan kamar dan membeli banyak perabotan anak di lantai dua, dan ia ingin kehidupan terus berbaik hati padanya. Namun seiring waktu, hidup yang ia kira akan selalu berbaik hati karena ia cantik dan pintar tiba-tiba menamparnya, seolah mengingatkan bahwa egoisme adalah salah satu sifat yang membuat tanah yang seharusnya dipenuhi berkah ini, menjadi ladang peluru dan anyir darah.

Namun di tanah para nabi yang menyimpan beragam kisah pilu ini, Sofi masih bisa menemukan definisi cinta dari sosok lelaki yang bernama Karim. Ia memang tidak sempurna, tapi ia adalah satu-satunya lelaki yang bisa bersabar menghadapi semua egoismenya, dan seolah belum cukup, saat mereka sudah pasrah, di sinilah Sofi sekarang, memandang cermin yang memantulkan alat tes kehamilan di genggaman tangannya. Dua larik garis terpantul di sana. Ia positif hamil.

“Ya Allah, masya Allah, alhamdulillah,” berkali-kali Sofi mengucapkan itu, semakin lama semakin kabur sebab tangisnya tumpah. Ia sempurna lega, bak sekawanan burung yang berhasil bertemu Simurgh setelah melewati pencarian yang panjang.

“Kamu akan menjadi ayah sungguhan, Abi,” gumamnya penuh rasa syukur.

Pintu rumahnya diketuk dari luar. Sofi yang mendengar itu kontan berlari untuk menyongsong belahan jiwanya, palung cinta serta kasihnya, dan poros kebahagiannya. Ia bahkan tak punya waktu untuk membenarkan lipatan hijabnya yang terlepas, ia ingin segera bertemu, mendekapnya, dan membisikkan bahwa ia akan menjadi ayah.

Sofi membuka pintu dengan hati yang penuh.

Seorang prajurit berbadan tanggung menatapnya, lalu berdeham. “Maaf mengganggu. Saya hanya mampir sebentar untuk menyampaikan kabar,” ujarnya sebelum menundukkan kepala, “Karim adalah lelaki yang tangguh, saya turut berduka…..”

Sofi tidak mendengar sisa perkataan prajurit itu. Ia hanya berdiri dengan air mata berlinang, melihat Tuhan dan Karim yang kini telah menyatu, melekat, dan tak lagi berjarak.

 

 

[1] Wahai istriku (Bahasa Arab)

[2] Hamas adalah akronim dari Harakat al-Muqawamah al-Islamiyyah. Kelompok ini merupakan oposisi dari Palestine Liberation Organization (PLO), sedangkan Fatah adalah akronim dari Harakat at-Tahrir al-Wathani al-Filasthini.

[3] Wahai anakku, panggilan kesayangan untuk anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *