: 772

Dua Cerita

: 773

 

Sekitar jam tujuh pagi, saya membuka jendela kamar. Rasa-rasanya udara segar langsung menyusup masuk ke hidung saya. Dengan mata tertutup, pelan-pelan saya hirup udara segar itu, saya menikmatinya, dan perlahan saya hembuskan.

Tetapi, saya kembali membaringkang tubuh ke atas kasur yang masih berserakan seprainya. Rasa hangat kasur masih bisa saya rasakan, membuat saya berat untuk benar-benar beranjak darinya, ditambah lagi selimut agak tebal yang semakin memanjakan saya di atas kasur.

Sembari menunggu mata benar-benar terlelap tidur lagi, saya mencoba untuk mendengarkan musik yang biasa saya putar waktu pagi. Sambil memakai headset, saya benar-benar dibawa oleh lagu itu untuk memejamkan mata, menikmati tidur pagi.

Tak lama kemudian, tiba-tiba musik terhenti. Sontak tangan saya langsung meraih hp yang terletak persis di samping, dan melihat layar hp, rupanya ada panggilan video masuk via whatsapp, dan itu adalah teman saya. Intinya dalam panggilan itu, teman saya mau main ke rumah. Tanpa panjang lebar omongan, langsung saya katakan “iya”. Namun dalam hati, saya menggerutu “Sialan, gue gak jadi tidur”.

Lelaki kurus berkulit kering itu tiba-tiba saja berada di depan pintu kamar, setelah di depan tadi meminta izin bapak untuk bertemu dengan saya. Tak lama, langsung saya buka pintu kamar, dan saya persilakan masuk. Tanpa sungkan, dia langsung menuju meja dan kursi mungil saya yang terletak di pinggir jendela. Tempat itu yang biasa saya gunakan untuk untuk belajar setiap malam.

Dalam pandangan saya, dia sangat menikmati tempat duduk favorit saya itu. Pandangannya diarahkan ke luar jendela, pada hamparan sawah yang sangat memanjakan mata, berjajar rapi seperti saya dan dia sering dihukum ketika masuk sekolah dulu.

Dia adalah teman satu bangku dengan saya ketika sekolah dulu. Saya paham, mungkin saja dia ingin melanjutkan obrolan-obrolan seperti biasanya, ketika sekolah dulu. Mungkin juga, dia ingin saya bercerita selama hidup di luar kota. Dia butuh hal-hal seperti itu untuk kembali membuka ingatan selama sekolah dulu. Dia adalah sahabat dekat saya. Selama 12 tahun lalu kami berangkat sekolah bersama. Namun 6 tahun lalu kami berpisah karena saya harus melanjutkan ke luar kota.

Dia mulai mendekati saya. Sebentar kami kecanggungan, sebelum obrolan-obrolan mulai kami muntahkan.

Piye kabarmu, Mar[1]?” tanya dia membuka obrolan.

“Alhamdulillah, sehat, Mus”

oleh pengalaman opo urip ning luar kota[2]?”

hahahaaa…. oleh pengalam ngempet kangen karo cah wedok sing tak senengi kae[3]

sing mbok maksud sopo, Mira toh[4]?

hahahaa…. iyo, Mus.[5]

Bertemu dengannya, mau tidak mau harus mengingat kembali pada 12 tahun lalu, sebuah pengalaman yang kami rasakan sulit untuk dilupakan. Pengalaman yang menjadikan dia, meskipun tidak setiap saat, selalu menempel di ingatannya. Karena memang rumah kami satu gang, hanya saja dipisahkan dengan 3 rumah. Tentu saya juga mengingatnya.

Pagi itu dia berada di sini. Setelah obrolan singkat tadi, tiba-tiba dia memperhatikan buku-buku saya yang berjajar rapi. Sorot matahari yang masuk melalui jendela pagi itu, semakin memanjakan pandangannya pada buku-buku saya. Di atas rak nomor dua dari bawah, dia mencoba meraih buku. Di atas kursi favorit saya tadi, dia mulai membaca buku yang diraihnya itu. Sambil merokok dan dengan suguhan pemandangan persawahan, dia sangat menikmati bacaan itu. Sebentar saja dia membaca buku, dia kembali pada tempat semulanya tadi, mendekat dengan saya.

Musthofa kembali mendekat, saya memulai melanjutkan obrolan tadi, “krungu-krungu, kon yo arep lanjut kuliah, Mus, tapi jarene wong tuwomu ora ndukung[6]?

iyo Mar, aku pengen lanjut kuliah, koyok awakmu. Tapi wong tuwoku wis tak kandani[7]

Perlahan, kami mulai menikmati obralan pagi. Kami memang teman lama sejak kecil, kami saling melontarkan cerita. Kami sangat menikmati obrolan pagi itu, ditambah hadirnya kopi yang menemani, membuat kami melebur dalam obrolan pagi. Aroma kopi hangat itu mengepul, menjadikan kami betah menikmati pagi dengan obrolan. Dia begitu terlihat menikmati pertemuan dengan saya. Hingga di obrolan pagi itu, dia menceritakan obrolannya dengan bapaknya beberapa hari lalu, agar bapaknya memberi izin dia kuliah. Begini cerita dia dengan bapaknya.

***

“Saya dengar selentingan, kamu mau kuliah, Musthofa?”

“Betul pak!” Musthofa mengangguk

Waktu itu, bapak dan ibu saya bertambah khawatir, karena saya akan kuliah di luar kota. Waktu itu juga saya khawatir, bapak dan ibu tidak memberi izin saya kuliah.

“Musthofa, tolong kamu pikir baik-baik lagi. Untuk mendapatkan uang, dan pekerjaan yang mapan, tidak perlu kamu kuliah terlebih dahulu lalu bekerja, kamu bisa langsung bekerja tanpa menunggu ijazah kuliah dulu. Apalagi banyak lowongan pekerjaan yang hanya membutuhkan ijazah minimal SMA.”

“Tapi Musthofa, masih ingin kuliah, pak.”

“Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan yang cocok buat kamu, atau kamu yang malas mencari informasi lowongan pekerjaan? Kamu juga tahu, si Mario, teman kamu SD dulu, setelah itu dia lanjut SMP dan SMA ke luar kota, dan sekarang akhirnya kembali lagi ke rumah? Kamu harus tahu, Mus, bapak merasa keberatan jika kamu tinggal kuliah ke luar kota, bapak bukan malah merasa keberatan, tapi juga menjadi beban pikiran bapak, bagaimana keadaanmu ketika di luar kota, dan jauh dari bapak ibumu. Coba kamu pikir dengan tenang lagi.”

“Sudah saya pikir, pak, saya ingin kuliah.”

“Pikirkan sekali lagi, bapak kasih kamu waktu satu bulan, sambil kamu bekerja bantu pakdemu usaha di rumahnya.”

“Dikasih waktu dua-tiga bulan pun saya tetap ingin kuliah, pak”

“Tidak! kamu pikirkan saja dulu dalam satu bulan ini”

Bapak memalingkan pandangannya dan berjalan menjauh dari saya. Saat itu saya benar-benar berpikir, apakah tekadku benar-benar ingin kuliah, atau benar yang dikatakan bapak, saya disuruh mencari pekerjaan di sekitaran sini, atau paling tidak membantu usaha pakdhe di rumahnya.

Bukan hanya satu bulan, tapi tiga bulan lamanya bapak kembali menanyakan hal itu kepada saya, apakah tekadku benar-benar ingin kuliah. Saya sengaja tidak menanyakan perihal kuliah kepada bapak, karena saat itu bapak agak sedikit marah ketika mencegah saya untuk kuliah, dan saya memilih untuk berdiam diri saja, hingga waktu tiga bulan lamanya.

***

Di akhir cerita, Musthofa diizinkan oleh bapaknya untuk melanjutkan pendidikannya setelah SMA. Namun, pada saat tiga bulan itu, pendaftaran di kampus pilihannya sejak SMA sudah menutup pendaftaran. Selama satu tahun, Musthofa terpaksa memilih untuk bekerja membantu usaha pakdenya yang berada di rumah. Hingga tahun berikutnya dia benar-benar kuliah sesuai kampus pilihannya sewaktu SMA. Dulu memang teman satu kelas dengan saya, namun saat kuliah ini, dia satu tahun di bawah saya, karena setahun sebelumnya, ia gunakan untuk membantu usaha pakdenya.

[1] Bagaimana kabarmu, Mar?

[2] Dapat pengalaman apa hidup di luar kota?

[3] Dapat pengalaman nahan rindu sama perempuan yang saya kangeni

[4] Yang kamu maksud siapa, Mira ya?

[5] Iya, Mus.

[6] Dengar-dengar, kamu juga mau lanjut kuliah, Mus, tapi orang tuamu tidak menyetujui?

[7] Iya, Mar, aku ingin lanjut kuliah, sama seperti kamu. Tapi orang tuaku sudah saya kasih tahu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *