Semangkuk Anggur untuk Kanjeng Nabi

Sumber: Pixabay
: 350

Semangkuk Anggur untuk Kanjeng Nabi

Sayyidah Aisyah suatu ketika ditanya oleh salah seorang sahabat. “Bagaimana akhlak Rasullullah Saw., wahai Ummul Mukminin?”

Sayyidah Aisyah menjawab: “kaana khuluquhu al-Qur’an” (akhlak beliau adalah al-Qur’an). Tindak lampah, etika, dan unggah-ungguhnya Nabi itu persis sebagaimana al-Qur’an. Salah satu yang hendak sahaya ceritakan ini adalah sepercik dari samudra keindahan akhlak beliau Saw.

Demikian ceritanya:

Suatu hari, Rasullullah sedang berkumpul dengan para sahabatnya di bawah pohon. Tak beberapa lama, datanglah seorang miskin membawakan semangkuk buah anggur dan memberikannya kepada Nabi. Beliau pun menerima hadiah tersebut dan memakannya sampai habis. Sang Miskin tersenyum sebab anggurnya dimakan habis oleh Baginda Nabi Saw. sendirian.

Para sahabat yang membersamai Nabi saat itu heran karena beliau tidak sama sekali menawari mereka anggur pemberian Si Miskin. Padahal jika ada yang membawa makanan dan minuman, beliau selalu membagi makanan dan minuman tersebut kepada para sahabatnya.

Setelah semangkuk anggur itu telah habis, Si Miskin menunjukkan raut muka bahagia dan ceria, sebab pikirnya, Nabi pasti sangat menyukai anggur pemberiaannya. Ia tersenyum kepada Baginda Nabi Saw. Tak lama, ia pamit untuk kembali ke pekerjaannya.

Setelah Si Miskin jauh berjarak dengan Nabi, salah seorang sahabat yang hadir pada waktu itu, memberanikan diri bertanya kepada Nabi: “Ya Nabi, mengapa Njenengan makan anggur itu seorang diri?”

Nabi tersenyum kepadanya. “Tahukah kalian, anggur yang aku makan tadi rasanya asam. Aku takut jika anggur itu aku bagikan, muka masam kalian menahan asam dapat mengurangi kebahagiaan orang itu. Itu sebabnya anggur itu aku habiskan seorang diri.”

Ya Rasul, betapa mulianya hati Engkau dalam menanggung keasaman anggur itu seorang diri tanpa sekalipun melukai hati pemberi? Ya Rasul, seorang yang tak punya etika dalam menerima pemberian ini, semoga dapat meneladani akhlakmu.

Wahai Rasul yang senantiasa menghidupi malam untuk shalat dan beribadah hingga bengkak kedua betisnya, angkatlah segala keegoisan diri dari segala yang ingin ditampakkan di manusia. Kebaikan kita ini, tak lebih pipih dari benang. Tetapi, ya Rasul, ingin saja ditampakkan, diakui, diagungkan. Maka yang demikian itu adalah akhlak yang sangat berkebalikan dengan akhlak njenengan.

Maka, Imam Busyiri, dalam Burdatul Madih mengatakan:

واحكم بما شئت مدح فيه

“Dan pujilah beliau Rasulullah Saw. sesuka hatimu.” (Petikan bait Burdah Imam Busyiri).

Semoga kita dapat meneladani akhlak beliau, dhohiron wa batinan, fi ‘aafiyatin wa salamah. Amin.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *